Kamis, 15 September 2011

MEMOTONG JARI TRADISI ANEH



           Apakah ungkapan kesedihan yang ditunjukkan oleh seseorang yang kehilangan ahli keluarganya? Menangis, ya, itu yang paling sering kita jumpai. Bagi umumnya masyarakat pengunungan tengah,khususnya masyarakat Wamenaung kesedihan akibat kehilangan salah satu anggota keluarga tidak hanya dengan menangis sahaja.
Biasanya mereka akan melumuri seluruh badan mereka dengan lumpur untuk jangka masa yang tertentu. Namun yang membuat budaya mereka berbeza dengan budaya kebanyakan suku di daerah lain adalah memotong jari mereka.
Hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh para Yakuza (kumpulan orangasasi  terkenal di Jepun) jika mereka telah melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh organisasi atau gagal dalam menjalankan misi mereka. Sebagai tanda kegagalan, mereka wajib memotong salah satu jari mereka. Bagi mereka ini, pemotongan jari dilakukan apabila ahli keluarga terdekat seperti suami, isteri, ayah, ibu, anak, kakak, atau adik meninggal dunia.
Pemotongan jari ini melambangkan kepedihan dan sakitnya bila kehilangan ahli keluarga yang dicintai. Ungkapan yang begitu mendalam, bahkan harus kehilangan anggota tubuh. Bagi masyarakat ini, keluarga mempunyai peranan yang sangat penting.
Seperti kisah seorang ibu asal Moni (sebuah suku di daerah Paniai), dia bercerita bahawa jari kelingkingnya digigit oleh ibunya ketika dia baru dilahirkan. Hal itu terpaksa dilakukan oleh si ibu kerana beberapa orang anak yang dilahirkan sebelumnya selalu meninggal dunia. Dengan memutuskan jari kelingking kanan anak baru saja ia lahirkan, si ibu berharap agar kejadian yang menimpa anak-anak sebelumnya tidak terjadi pada bayi. Hal ini terlalu ekstrim, namun kenyataannya memang demikian.
Pemotongan jari dilakukan dengan pelbagai cara. Ada yang memotong jari dengan menggunakan alat tajam seperti pisau, parang, atau kapak. Cara lain adalah dengan mengikat jari dengan seutas tali beberapa waktu lamanya sehingga rangkaian yang terikat menjadi mati kemudian dipotong.
Namun kini budaya ‘potong jari’ sudah ditinggalkan. sekarang jarang ditemui orang yang melakukannya beberapa dekad kebelakangan ini,kerana mereka sudah dipengaruhi oleh agama…

  Diwilayah jambi juga ada budaya unix dalam melepaskan kesedihan akan ditinggalkan kaum keluarga contohnya kematian dan lain lain. salah satunya budaya suku kubu suku anak dalam di propinsi jambi, dimana suku ini anak membuatkan sebuah pondok beratap daun rumbia dan berlantai kayu serta berdinding duan pua atau daun rumbia dan si mati akan diletakkan dalam pondok itu kemudia ditinggalkan sendirian setelah 2 tahun kemudian barulah sanak pamily kembali ke lokasi untuk menjenguk dan sekedar bersilaturrahmi dalam budaya mereka. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

PENDAPAT KAMU ??