Jumat, 07 Januari 2011

RINTIHAN HATI BUDAK NAFSU JEPANG



Wanita senja itu bernama Mardiyem, kini ia mulai membuka hatinya pada wartawan yang ingin mencari berita tentang sejarah Jugun Ianfu (budak seks) 64 tahun silam. Pada awalnya Mardiyem enggan untuk menceritakan apa yang terjadi saat ia dan teman-teman yang lainnya (3 angkatan Jugun Ianfu) menjadi penghuni asrama Telawang sejak tahun 1942-1945 pada masa penjajahan Jepang dalam perang Dunia II terjadi. Kulit keriput namun berparas ayu menunjukkan usianya yang senja dan tubuh yang renta berbalut kebaya dari kain jarik khas jawa itu sesaat menghela nafas, lalu matanya berkaca-kaca saat menceritakan apa yang terjadi selama menjadi penghuni asrama Telawang. Ia merasakan kepedihan yang sangat mendalam, kepedihannya mewakili perasaan para Jugun Ianfu.

Saat itu Mardiyem berusia 13 tahun. Sepeninggalan ayahnya ia memutuskan pergi dari rumahnya di Yogyakarta ke Borneo untuk bekerja, ia bertekad untuk tidak menjadi beban kakak-kakaknya yang kehidupannyapun sangat sulit. Dan pada saat itu ia mendapat tawaran bernyanyi di Borneo. Tanpa fikir panjang ia menerima tawaran tersebut. Bukan hanya Mardiyem yang akan bekerja di Borneo, ternyata ia pergi bersama rombongan perempuan lainnya dari berbagai daerah.

Sebelum diberangkatkan ke Borneo rombongan dibawa ke kampung Penembahan Yogyakarta dan ditempatkan ke sebuah klinik, kemudian rombonganpun satu persatu diperiksakan kesehatannya oleh dokter. Didalam klinik tersebut terdapat seorang Dokter dan seorang asisten, dan satu orang Jepang pada saat itu Mardiyem mulai curiga dan merasakan adanya keanehan. Setelah sampainya di Borneo Mardiyem merasakan firasat buruk akan terjadi, kemudian Mardiyem dan rombongan ditempatkan di sebuah bangunan yang cukup tertata rapi, disana banyak orang Indonesia yang tampaknya berperan sebagai petugas atau pekerja. Bangunan itu bernama Asrama Telawang. Selain banyak orang Indonesia ternyata disana juga orang banyak Jepang. Mardiyem dan rombongan teman-teman yang lainya di tempatkan disetiap kamar berukuran 3m x 2,5 m, dan setiap pintu kamar terdapat nomor yang berurutan sesuai dengan banyaknya kamar dari nomor 1 sampai nomor 24. Saat itu Mardiyem menempati kamar 11.

Firasat buruk itu mulai terbukti, Mardiyem dan teman-teman yang lainnya merasa akan dijadikan “perempuan nakal”, kekecewaan menggelayuti hati mereka saat itu, padahal pada awal keberangkatan dari Yogyakarta menuju Borneo Mardiyem dan teman-teman yang lainnya membawa banyak harapan dan impian, rela meninggalkan rumah demi mendapatkan kehidupan yang layak untuk keluarga dikampungnya. Mardiyem berharap menjadi penyanyi di Borneo sesuai dengan tawaran yang dijanjikan Zus Lentji (ia seorang perempuan yang dikenal Mardiyem melalui Mbak Soerip) dengan rasa berat hati Mardiyem pasrah terhadap apa yang terjadi. Bukannya tidak ada pemberontakan untuk keluar dari asrama itu, akan tetapi asrama Telawang dijaga dengan ketat dan diawasi oleh para Jongos (pesuruh) Cikada, dari mulai gerbang utama sampai kamar-kamar yang mereka tempati. Pada hari liburpun biasanya mereka pergi berbelanja dengan dikawali para jongos cikada. Tak ada kesempatan bagi mereka untuk melarikan diridari asrama ini.
Asrama telawang dikelola oleh orang jepang bernama Cikada. Dia yang mengatur segala keperluan penghuni asarama Telawang, dibantu dengan para Jongos-nya dari mulai mengatur kesejahteraan para pegawai dan kesejahteraan para Jugun Ianfu, ia juga mengatur keluar dan masuknya para tentara Jepang yang ingin melampiaskan hawa nafsunya di asrama Telawang pada gadis-gadis yang telah ditempatkan di setiap kamar. Para tentara Jepang memesan nama dan nomor kamar yang tertera di papan dengan tulisan Jepang di ruang karcis asrama Telawang, nama yang tertera di papan tersebut berikut dengan nomor kamarnya adalah para Jugun Ianfu yang sehat dan siap untuk melayani seks mereka, kemudian mereka diberikan karcis untuk masuk kamar sesuai dengan nomor kamar yang telah dipesan dan ditambah 2 Kaputjes untuk 1x masuk kamar.

Sejak menempati asrama Telawang nama Mardiyem berubah menjadi “MOMOYE”. Saat itu nama Momoye yang berparas hitam manis dibalut dengan kebaya dari bahan kain jarik khas jawa nampak lebih ayu menjadi sorotan para tentara Jepang, dan tidak aneh seluruh penghuni asrama telawang mengenali MOMOYE. Walaupun Momoye melayani nafsu para tentara Jepang setiap harinya, tapi Momoye selalu merawat tubuhnya terutama merawat kelaminnya dengan minum jamu agar tidak terserang penyakit kelamin tau penyakit wanita yang diberikan oleh ibu angkat Momoye, namanya ibu Nur. yang berbaik hati pada Momoye dengan sembunyi-sembunyi.

Setiap harinya Momoye dan teman-teman yang lainnya mendapat perlakuan kasar dari para tentara Jepang yang ingin memuaskan nafsunya dengan para Jugun Ianfu. Yang sering memperlakukan kasar saat berhubungan intim adalah tentara Jepang yang berpangkat rendah yang baru datang dari pertempuran atau baru pulang dari patroli, karena usia mereka rata-rata masih muda sedangkan yang berpangkat tinggi atau sipil tidak berlaku kasar. Para tentara yang datang ke asrama Telawang adalah sebagai tamu. Dan tamu yang datang tidak sembarangan diizinkan untuk masuk ke kamar-kamar. Jam kunjungan berlaku di asrama tersebut, adapun jam tamu siang hari pada pukul 12.00–17.00 khusus untuk serdadu pangkat rendah Jepang dengan karcis seharga 2,5 Yen. Dan jam tamu sore hari pukul 17.00–24.00 khusus untuk orang sipil Jepang dengan harga krarcis 3,5 yen. Sedangkan Mulai pukul 24.00 sampai pagi dikenakan karcis seharga 12,5 Yen. Pada jam tersebut biasanya dipakai oleh serdadu Jepang berpangkat perwira.

Momoye pernah mengalami pengguguran paksa terhadap kandungannya, selama melayani seks para tamu tentara Jepang, mereka menggunakan Kaputjes, hanya satu tamu tetap Momoye yang tidak mggunakan kaputjes yaitu Yamauchi. Yamauchiadalah laki-laki pertama yang menyatakan cinta pada momoye. Dari hasil hubungannya tanpa diduga akhirnya Momoye hamil, awalnya berita ini ditutupi agar tidak diketahui Cikada namun akhirnya sampai juga ke telinga Cikada. Momoye disarankan meminum obat penggugur kandungan, namun setelah satu minggu berlalu bayi dalam kandungan Momoye tidak mau keluar, Cikadapun memutuskan untuk membawa Momoye ke Rumah Sakit Ulin untuk dioperasi karena kehamilannya sudah menginjak 5 bulan dan perutnya mulai terlihat membesar. Setelah perut Momoye diplenet atau ditekan paksa, seluruh badannya sakit dan lemas. Momoye merasa sangat berdosa karena tidak bisa mempertahankan darah daging sendiri. Yamauchi sempat menengok Momoye di rumah Sakit Ulin, dia meminta maaf karena membuatnya menderita dengan kehamilannya. Karena Yamaucilah penyebab Momoye hamil dan digugurkan paksa. Yamauchi memang meninginkan Momoye hamil agar Momoye bisa dikeluarkan dari asrama Telawang, sehingga Momoye dan Yamauchi bisa menikah dan hidup bersama. Itulah alasan Yamauchi jarang menggunakan Kapotjes saat berhubungan seks dengan alasan kurang nikmat.

Pada tahun 1945 Jepang kalah. Di beberapa bulan pada tahun 1945, sering terdengar bunyi bom berjatuhan di sekitar asrama. Situasi makin gawat. Bom dijatuhkan dimana-mana, Cikada dan orang-orang Jepang lainnya menghilang. Akhirnya Momoye memutuskan untuk mengungsi ke Kapuas. Disana Momoye bertemu dengan Amat Mingun. Amat Mingun adalah laki-laki yang selama ini menaruh hati pada Momoye sejak berada di asrama telawang. Saat itu Amat mingun bertugas mengantarkan sayuran ke asrama Telawang untukkebutuhan penghuni asrama Telawang. Amat Mingun melamar Momoye berkali-kali namun Momoye menolaknya. Momoye mati rasa setelah ia mengalami trauma di asrama Telawang. Pada tahun 1946, akhirnya Momoye memutuskan untuk menrima lamaran amat mingun kemudian menikah, meskipun tidak ada perasaan cinta yang tersisa, semuanya telah hancur di Asrama Telawang. Momoye tidak mencari cinta yang ada hanya butuh kasih sayang dan perlndungan. Pernikahannya dengan Amat Mingun dikaruniai satu anak lelaki bernama “Mardiyono”.

Pada tahun 1953 Momoye dan keluarga kembali pulang ke Yogyakarta. Di Yogyakarta nama Mardiyem bukanlah Momoye lagi, akan tetapi para tetangga yang mengenal Mardiyem memanggilnya dengan sebutan Mak Inun. Sebetulnya nama Mardiyem di kampung adalah Mak Mingun, tetapi Mardiyono kecil tidakbisa memanggil nama Mak Mingun dengan jelas. Jadi yang terdengar hanya Mak Inun… Mak Inun… dan semua tetangga memanggilnya Mak inun.

Pada tahun 1993 Mardiyem memutuskan untuk mendaftar sebagai perempuan korban Jepang di LBH Yogyakarta. Sejak saat itu masalah mulai berdatangan. Ketika masyarakat tahu bahwa Mardiyem adalah salah satu wanita pemuas seks para tentara Jepang (Ransum Jepang) mereka mulai mencibir, mengejek, menjauhi Mardiyem dalam pergaulannya. Sejak saat itu juga keahliannya dalam memasak pada setiap acara tidak pernah diberikan upah bahkan tidak jarang untuk menggunakan jasanya lagi, sampai Mardiyem kehilangan pekerjaannya. Hal itu membuatnya sangat menderita.

Penghinaan demi penghinaan ia lewati sampai tahun 2000. suatu ketika dalam sebuah acara kemerdekaan panitia acara tersebut memintanya utuk menceritakan yang sebenarnya terjadi dan dialami pada zaman penjajahan Jepang dalam Perang dunia II. Saat itu Mardiyem bersedia. Pada pertemuan tersebut Mardiyem mengatakan “Jangan mencapku sebagai “Orang nakal” atau “Pelacur”. Aku adalah korban jepang. Pada waktu zaman Jepang tidak ada pilihan lain bagi para remaja selain menjadi ransum Jepang atau romusha”. Maka setelah pernyataan Mardiyem diceritakan, Masyarakat mulai berubah, tidak lagi banyak yang mengejek dan menjauhinya, keadaanpun mulai membaik.

Pada tahun 2007 tepatnya tanggal 20 Desember pukul 22:30 WIB, pejuang hak dan mantan “Jugun Ianfu” ini meninggal dunia karena sakit dikediamannya Suryotaruman Yogyakarta. Jugun Ianfu adalah salah satu kepahitan sejarah yang lama terlupakan. Bahkan mungkin tidak akan pernah terungkap jika Mardiyem tidak ingin menceritakan semuanya yang terjadi.

Inilah salah satu potret kehidupan korban penjajahan Jepang dalam Perang Dunia II. Ini adalah BUKTI SEJARAH dan tidak boleh dilupakan, karena kita adalah bagian dari sejarah itu sendiri.

SUMBER dari berbagai

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

PENDAPAT KAMU ??