Minggu, 19 Juli 2009

INCEST DI INDONESIA BAGAIKAN JAMUR


Siapa yang tidak kenal sosok harimau? Sosok kucing besar yang menduduki puncak rantai makanan ini, dikenal sebagai pemburu yang sadis. Meskipun demikian peribahasa menyebutkan bahwa “sebuas-buasnya harimau tidak akan memangsa anaknya sendiri”. Tetapi tidak demikian rupanya dengan ayah-ayah yang tega merenggut ‘mahkota’ anak perempuannya. Bahwa sosok ayah-sebagai orang tua sudah seharusnya bertanggung jawab untuk melindungi ‘buah hatinya’ bukan sebaliknya dengan otoritasnya justeru menggauli puterinya layaknya ia menggauli sang istri. Terlebih lagi akibat perbuatan amoral tersebut mengakibat kehamilan pada anak perempuan yang menjadi korban. Tidak jarang oleh karena ketakutan korban untuk melaporkan perbuatan ayahnya, membuat ia terpaksa melahirkan anak dari benih ayahnya.

Rumah sebagai tempat yang seharusnya memberi kedamaian dan keamanan bagi penghuninya dalam beberapa peristiwa justeru menjadi tempat yang aman bagi pelaku kekerasan terhadap anak (child abuse) khususnya kekerasan seksual (sexual abuse). Dari dua puluh delapan kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi atau terungkap pada Januari 2008, dua puluh satu diantaranya merupakan kasus kekerasan seksual dengan berbagai varian. Anak perempuan pada periode ini merupakan korban terbesar, yakni sembilan belas orang (73%) sedangkan anak laki-laki tercatat tujuh orang (27%) yang menjadi korban. Angka ini belum termasuk korban yang tidak teridentifikasi jenis kelaminya.

Sebagian besar pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang-orang dekat atau orang yang dikenal, seperti orang tua, famili/kerabat, tetangga, teman dan pacar. Terkait dengan kekerasan seksual, telah terjadi enam kasus incest satu diantaranya mengakibat kehamilan yang dilakukan masing-masing oleh ayah kandung (2 kasus), ayah tiri (2 kasus), paman (1 kasus), dan ayah angkat (1 kasus).

Menurut Masland dan Estrdge incest adalah jenis perlakuan atau penyiksaan secara seksual yang melibatkan dua anggota keluarga dalam satu keluarga, ayah dengan anak perempuan, ibu dengan anak laki-laki, saudara laki-laki dengan saudara perempuan dan kakek dengan cucu perempuan. Pendapat lain seperti yang diutarakan oleh Hayati, incest adalah perkosaan yang dilakukan oleh anggota keluarga atau orang yang telah dianggap sebagai anggota keluarganya. Kekerasan seksual dalam kategori ini adalah yang tercatat mengingat bahwa si pelaku adalah orang dekat atau keluarga sendiri sehingga incest biasanya terjadi berulang, dan diantara si korban dan si pelaku besar kemungkinan untuk saling bertemu.

Kondisi tempat kejadian (locus delicti) merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya kasus-kasus incest. Faktor lain adalah kepatuhan atau ketakutan korban atas ancaman dari pelaku juga memberikan keleluasaan bagi pelaku untuk melakukan perbuatannya tersebut, bahkan mengulangi perbuatan tersebut. Beberapa kasus berikut ini merupakan fakta yang menunjukkan bahwa kecenderungan dalam kasus incest korban berulang kali diperkosa/dicabuli oleh pelaku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

PENDAPAT KAMU ??