Senin, 08 Juni 2009

ayah bejat kapankah akan berubah ??

KISAH pilu nan tragis kembali mendera seorang bocah di tanah air kita. Melati (14), sebut saja demikian namanya, menjadi korban nafsu bejat dua lelaki yang seharunya menjadi pelindungnya. Di tahun 2008, dia diperkosa ayah kandungnya, dan di tahun 2009 gantian ayah angkatnya menodainya. Duuh….dunia menangis rasanya.

Anak-anak yang merupakan anak panah zaman, matahari masa depan, senantiasa menjadi pesakitan. Belum lagi tangannya penuh dan kuat menggenggam akar kehidupan, tangan-tangan kotor telah mencerabut- nya.

Kita semua pasti tidak pernah berpikir bahwa tangan kotor tersebut, salah satunya ternyata milik seseorang yang justru mengemban tugas untuk “mendewasakan” anak-anak agar siap menghadapi kerasnya dunia.

Seorang ayah kandung dan ayah angkat di Duri, Riau, tertangkap basah tengah memperkosanya anaknya yang baru tumbuh remaja. Pagar makan tanaman, itu yang terjadi.

Apa pun alasan sang ayah hingga dia bermata gelap, tetap tidaklah bisa diterima. Ayah yang kerapkali diibaratkan sebagai soko guru atau tiang rumah tangga, wajib menjadi penyelamat keluarga, dianut dan menjadi contoh, telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Jika seseorang sudah menetapkan pilihannya menjadi seorang ayah, maka dia sudah menekan kontrak “mati” untuk menaungi anak-anaknya. Dia mesti siap menjadi pengayom dan teladan seisi rumah. Bukan menjadi monster yang siap menerkam anak titipan Tuhan.

Derita Melati
Derita panjang Melati ini terungkap atas laporan pengasuh pondok pesantren tempat gadis belia itu menimba ilmu, ke kepolisian di Mandau, Duri.

Selasa (10/3) malam, wartawan Tribun Pekanbaru Raya Deswanto mengirimkan tulisannya ke mabes Tribun di Pekanbaru. Tulisan yang sarat dengan sisi kemanusiannya itu langsung membetot perhatian semua redaktur yang ada.

Kairul Amri (32) warga Jalan Siak, Gang Yudo, Mandau, sebagai bapak angkat seharusnya menjadi pengayom bagi bocah yang ditinggal ibunya sejak kecil itu, bukan menjadi pemangsa. Dari pengakuan Melati kepada penyidik Kepolisian Sektor Mandau, Sening siang dirinya diantar Kairul kembali ke pesantren untuk memulai kembali kegiatan belajar.

Sejak Sabtu (7/3) lalu, Melati memang sedang menjalani liburan yang sudah dijadwalkan oleh pengelola pesantren. Jarak dari rumah ke sekolah agama itu hanya sekitar 4 kilometer. Namun, di tengah perjalanan yang cukup sepi, tiba-tiba saja Kairul membelokkan sepeda motor dari persimpangan menuju pesantren.

Lokasi perhentian mereka ditutupi semak-semak sehingga tidak terlihat oleh orang yang melintas. Ayah angkat ini menyuruh Melati turun dari motor dan memulai aksi bejatnya. Melati sempat melawan dan berteriak. Namun mendapat ancaman akan dibunuh oleh pelaku, korban pun menjadi takut dan pasrah.

Usai kejadian tragis itu, pelaku kembali mengantarkan Melati ke pesantren. Sampai di depan sekolah yang terletak di tengah kebun kelapa sawit itu, pelaku langsung pulang. Tak mampu menahan kesedihan Melati pun menangis. Curiga melihat kedatangan Melati yang terus menangis, beberapa guru pesantren menghampiri.

Setelah ditanya, Melati pun menceritakan derita yang telah diterimanya. Spontan saja, para guru agama itu terkejut mendengar cerita korban. Tak ingin kehilangan waktu, mereka langsung mengejar pelaku ke rumah dan menanyai kebenaran pengaduan Melati.

Semula Kairul mengelak, namun akhirnya ia mengakui pernah melakukan hal tersebut beberapa waktu lalu. Lalu mereka melaporkannya kepada polisi.

Terungkapnya kejadian di semak-semak itu pun menguak rahasia perlakuan Kairul selama ini. Pengakuan Melati di kepolisian lebih mengejutkan lagi. Ternyata, pemerkosaan yang dilakukan oleh ayah angkatnya tersebut sudah berlangsung sebanyak empat kali.

Awal nestapa
Menurut laporan Raya Dewanto, perjalanan hidup Melati memang dipenuhi kegetiran dan prahara kelam. Masa depannya terancam akan dipenuhi ingatan perlakuan kekerasan seksual. Pasalnya, Melati juga pernah mengalami perkosaan dari ayah kandungnya, Slamet, akhir September 2008 lalu. Kasus Slamet kini sudah bergulir di meja hijau Pengadilan Negeri Dumai.

Saat itu, Slamet yang baru membangun rumah tangga dengan istri baru di Duri menjemput Melati dari Medan. Oleh Slamet, korban dijanjikan akan disekolahkan dengan baik. Namun, baru dua hari tiba di Duri, justru sang ayah kandung menidurinya di salah satu bilik rumah tersebut.

Kejadian perkosaan itu pun membuat hidup Melati makin tak menentu. Terketuk hati untuk membantu, akhir Desember 2008 lalu Kairul pun mengajak Melati untuk tinggal di rumahnya. Namun, sama saja dengan Slamet, perbuatan tercela tersebut ternyata juga dilakukan Kairul terhadap Melati.

Dalam kasus ini, selain pelaku harus menerima hukuman setimpal, tentu anak, korban perkosaan sangat perlu kita selamatkan. Pasca kejadian tersebut, sang anak perlu terapi untuk memulihkan kejiwaannya dari goncangan hebat.

Dalam kasus kekerasan seperti ini, selalu anak menjadi korban yang paling hebat. Anak menjadi trauma melihat masa depannya. Dan kita sebagai orang dewasa, kerap tidak menyadari hal ini.

Hati anak-anak begitu lembutnya menghadapi tempaan hidup. Sementara kita orangtua, seringkali dibutakan oleh hal-hal duniawi yang menggoda di depan mata.

Kita sebagai orangtua, hakikatnya adalah pelindung anak-anak dari segala ancaman. Jika sebagai orangtua kita sudah kehilangan rasa tanggungjawab dan justru menjadi ancaman bagi anak-anak, celakalah masa depan bangsa ini. ***
Kiranya masih banyak melati2 lain yang layu sebelum berkembang di negeri ini.

admin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

PENDAPAT KAMU ??